Kamis, 24 Maret 2011

Belajar Jarimatika



JARIMATIKA
Berlatih Berhitung dengan Mudah dan Menyenangkan

LATAR BELAKANG
  • Anak kita tidak suka matematika?
  • Anak kita susah memahami angka dan bilangan?
  • Anak kita enggan belajar berhitung?
Sebagian dari kita pun pernah mengalami hal yang sama, bukan? Padahal kita juga tahu bahwa berhitung dan matematika merupakan hal yang penting untuk dikuasai anak kita. Maka 2 hal yang seringkali muncul adalah:
  • Ketidak-sabaran (pada diri anak dan orangtua)
  • Proses memaksa – terpaksa (yang sangat tidak menyenangkan kedua belah pihak)
Jarimatika memperkenalkan kepada anak bahwa matematika (khususnya berhitung) itu menyenangkan. Dan di dalam proses yang penuh kegembiraan itu anak dibimbing untuk bisa dan trampil berhitung dengan benar.
APA ITU JARIMATIKA?
Jarimatika adalah cara berhitung (operasi Kali-Bagi-Tambah-Kurang) dengan menggunakan jari-jari tangan.
Apa nilai lebihnya?
  • Alatnya selalu tersedia dan tidak perlu dibeli
  • Alatnya tidak akan pernah ketinggalan atau disita saat ujian
  • Tidak memberatkan memori otak dengan bayangan
  • Menyenangkan dan juga… MUDAH!
PERKEMBANGAN JARIMATIKA
Endapan-endapan pertanyaan lama mulai bermunculan seperti mengapa anak-anak mesti dilarang menggunakan alat hitung? Mengapa ada guru yang melarang muridnya menggunakan jari sebagai alat hitung namun mengizinkan penggunaan lidi? Perlukah anak dipacu untuk berhitung cepat? Dsb.
Kami melihat Jarimatika bukan sekedar cara berhitung. Jarimatika lebih merupakan alat komunikasi orangtua kepada anak-anaknya. Jarimatika adalah sebuah cara sederhana dan menyenangkan mengajarkan berhitung dasar kepada anak-anak menurut kaidah:
  • Dimulai dengan memahamkan secara benar terlebih dahulu tentang konsep bilangan, lambang bilangan, dan operasi hitung dasar.
  • Barulah kemudian mengajarkan cara berhitung dengan jari-jari tangan.
  • Prosenya diawali, dilakukan dan diakhiri dengan gembira.
Apa nilai lebihnya?
  • Sederhana
  • Alatnya selalu tersedia dan tidak perlu dibeli
  • Alatnya tidak akan pernah ketinggalan atau disita saat ujian
  • Tidak memberatkan memori otak dengan bayangan (seperti yang sering dirasakan saat selesai bermain game Tetris)
  • Dan ternyata juga… MUDAH
Hal-hal tersebut meringankan orangtua saat perlu mengajarkan kepada putera-puterinya.
PELATIHAN JARIMATIKA
Kami mempunyai prinsip bahwa orang tua adalah guru pertama dan utama untuk buah hatinya. Maka orang tua, khususnya seorang ibu harus pintar dan menguasai banyak ilmu untuk kemajuan putra-putrinya.
Kegiatan pelatihan untuk orangtua juga mulai kami siapkan. Ada berbagai jenjang pelatihan sebagai berikut:
  • Pelatihan Jarimatika untuk orang tua
  • Pelatihan Jarimatika Lanjut untuk orangtua
  • Pelatihan Dasar untuk guru/pengelola unit
  • Pelatihan Menengah untuk guru/pengelola unit
  • Pelatihan Lanjut untuk guru/pengelola unit
  • Pelatihan untuk Pelatih (Training for Trainers)
  • Pelatihan-pelatihan tersebut dahulu diawali dengan uji coba ke beberapa orang tua murid di salah satu TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) yang secara kebetulan banyak diantara mereka yang berprofesi sebagai tukang sayur, buruh cuci, dan beberapa ibu rumah tangga yang tidak bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke TK karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Hasilnya begitu menggembirakan, ibu-ibu tersebut menguasai ilmu jarimatika dengan mudah dan segera mempraktekkannya bersama anak-anaknya sehingga anak-anak mereka sangat terbantu dalam menguasai ilmu jarimatika secara mudah dan menyenangkan.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak ibu-ibu yang ingin mengikuti pelatihan-pelatihan Jarimatika, karena selain mendapatkan ilmu Jarimatika mereka juga mendapatkan ilmu pola pengasuhan anak, sehingga bisa mendidik anak-anak mereka dengan lebih mudah dan menyenangkan.
Alhamdulillah respon masyarakat terhadap Jarimatika sangat bagus, apalagi setelah muncul artikel Jarimatika di Majalah Tempo dan penayangan di Trans TV menambah gencar rasa keingintahuan masyarakat tentang Jarimatika, sehingga membuat salah satu televisi luar negeri dan beberapa media yang ada ingin meliput kegiatan Jarimatika.
Dari berjalannya kegiatan, ada kawan yang memiliki lembaga penerbitan buku (Penerbit Kawan Pustaka) mendorong untuk menerbitkan buku Jarimatika. Kami gembira menyambutnya. Satu dorongan kuat saat itu adalah pemikiran untuk menyusun buku yang sederhana serta sangat mudah dimengerti dan digunakan oleh para orangtua. Maka yang muncul adalah criteria berikut: tipis (tidak banyak halamannya), berikan porsi besar untuk gambar (visualisasi), persedikit kata dan kalimat dalam penjelasan, siapkan lembar latihannya.
Alhamdulillah buku pertama Jarimatika Penjumlahan dan Pengurangan mendapat tanggapan yang baik. Saya bersyukur. Dorongan untuk menuliskan yang lainpun bertambah. Lahirlah buku-buku berikutnya:
  • Jarimatika perkalian dan Pembagian (Penerbit Kawan Pustaka)
  • AbacaBaca (Penerbit Kawan Pustaka, cara mudah dan menyenangkan melatih anak membaca; sekali lagi ini merunut proses yang dijalani oleh NS)
  • Calistung (Penerbit Kawan Pustaka, buku latih untuk belajar menulis)
  • Buku Bintang (buku panduan menumbuhkan motivasi pada anak, belum terbit)
  • Lagu dan Permainan Jarimatika (berisikan lagu dan permainan dalam belajar dan mengajarkan Jarimatika, belum terbit)
  • Lagu dan Permainan AbacaBaca (berisikan lagu dan permainan dalam belajar dan mengajarkan AbacaBaca, belum terbit)
Selain menuliskan buku, kamipun mulai merancang alat-alat bantu untuk belajar Jarimatika dan AbacaBaca. Proses produksinya kami percayakan kepada ibu-ibu rumah tangga. Mereka mendapatkan pola-pola gambar dan bentuk alat peraga kemudian merangkaikannya menjadi sebuah alat peraga, dari setiap alat peraga mereka mendapatkan tambahan income sekitar Rp. 5000 – Rp 15.000/ alat peraga, sesuai dengan tingkat kerumitannnya.
Dalam satu hari rata-rata mereka bisa menyelesaikan sekitar 1-3 alat peraga, dan selalu mereka kerjakan di rumah sambil mengamati proses bermain buah hati mereka. Proses ini menambah kekayaan pengalaman kami. Interaksi dengan para ibu membuahkan munculnya gagasan-gagasan berikutnya seperti bahwa ternyata para ibu yang memiliki penghasilan memiliki tingkat rasa percaya diri yang lebih baik dan berpikiran positif. Tantangannya adalah bagaimana hal tersebut tetap sejalan dengan proses pendidikan dan tanggung jawab ibu dalam keluarga?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar